cinta Generasi Z melalui perspektif Jalaluddin Rumi, seorang sufi abad ke-13. Konsep cinta Gen Z dipengaruhi teknologi dan perubahan sosial, menyebabkan pergeseran pandangan dari cinta romantis tradisional ke bentuk yang lebih luas dan impulsif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada mahasiswa angkatan 2019 Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam kelas A dan B sebagai sumber primer. Sumber sekunder meliputi buku Fihi Ma Fihi karya Rumi, The Art of Loving Erich Fromm, serta wawancara, observasi, dan literatur sebelumnya.
Cinta mengalami transformasi signifikan di kalangan Gen Z; dulu terfokus pada romansa dan pernikahan sebagai norma sosial, kini melebar karena globalisasi dan teknologi informasi. Ini menciptakan pandangan cinta yang lebih dinamis, tapi sering kali kompleks Perspektif Jalaluddin Rumi. Dalam ajaran Rumi, cinta bukan hanya perasaan romantis, melainkan sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama. Kebijaksanaan cinta menekankan perhatian serta kasih sayang universal, bukan egois atau diri-berpusat.
Gen Z menemukan pemikiran Rumi relevan untuk mengatasi konflik hubungan modern, mendorong refleksi atas cinta sejati yang positif. Ini membantu membangun relasi lebih baik, mengintegrasikan sufisme dengan tantangan era digital.
0 Comments